A Letter from Me to You (end)
Dear perfect woman,
I don’t know you but I know you from your digital printed.
You seem nice and friendly, but I don’t like you.
Terima kasih sudah masuk ke kehidupannya. Sudah memberikan dan memperkenalkan dunia baru padanya.
Kamu tidak pernah tahu rasanya ditinggalkan selama 2 tahun.
Bagaimana sebelumnya setiap hari bisa selalu bersama dia dan kehidupan berubah ketika dia pergi.
Ada harapan disini yang berharap dia pulang dan membawa kembali kehangatan 2 tahun yang lalu.
Tapi kemudian sebelum 2 tahun itu berakhir ternyata kehangatan itu beralih ke kamu.
Kamu tidak tahu apa saja yang sudah kami perjuangkan.
Mungkin kamu akan bilang “kan dia yang naksir aku, yang ngejar2 aku, yang suka sama aku duluan.”
But hey, if you are a nice woman you should teach him how to be nice to a woman.
Kita sama2 wanita yang seharusnya punya kelembutan hati yang sama.
Kamu tidak pernah tahu bagaimana perjuangan kami untuk membangun ini semua.
Sampai akhirnya diruntuhkan begitu saja karena ada cinta yang lain.
Dari awal aku sudah curiga.
Pasti ada apa2 antara kalian.
Tapi tetap saja aku yakin dan percaya sama dia karena aku tidak mau mengkhianati segala perjuanganku.
Sampai suatu hari dia bicara,
“Orang pacaran kan belum terikat, seharusnya masih bisa saja dia suka sama orang lain”
Apakah aku harus curiga pikiran dia berasal dari kamu?
Apakah benar teorinya seperti itu?
Apakah harus tukar posisi dulu supaya kalian paham rasanya disakiti?
Aku memang tidak bisa memaksa seseorang.
Apalagi untuk urusan perasaan.
Tapi bisa tidak kamu bayangkan,
Ketika kamu punya perasaan yang besar, harapan yang besar dengan seseorang.
Tapi kemudian orang itu menutupi sesuatu darimu.
Menutupi hal yang membuatmu cemburu.
Dan alasannya dia menutupi hal itu dari semua orang.
Semua orang termasuk kamu.
Padahal kamu adalah orang yang akan hidup dengannya.
Orang yang seharusnya menjadi tempat berbagi apapun dan tidak ada yang boleh ditutupi.
Aku tidak bicara private things.
Aku bicara hal yang seharusnya kamu layak tau, tapi sengaja ditutupi olehnya.
Dan ketika dikonformasi, bukan solusi yang dia berikan.
Malah dia ingin mengakhiri saja hubungan ini karena sudah terlalu menyakitimu.
Dia sedih kamu pun sedih.
Dia berjanji menghubungimu kembali.
Tapi kamu menunggu dan tidak ada kabar lagi.
Sampai suatu hari kamu melihat dia sudah jadian lagi.
Dengan orang yang kamu curigai.
Apakah kejadian seperti itu akan cukup menghancurkan hatimu?
Aku rasa kamu tak tahu kisah ini.
Atau pura-pura tidak tahu hanya demi kebahagiaan kalian?
Tidak papa, asal kamu bisa memperlakukannya lebih baik.
Memahami dia lebih baik lagi.
Memahami dia lebih baik lagi.
Aku rasa bisa, karena kamu punya segalanya.
Segalanya yang dia cari dari dulu.
But, who am I to judge?
I also don't know your past and what you've been through.
I also don't know your past and what you've been through.
Komentar
Posting Komentar