A Letter From Me to You (1)

I am not the one who speak first.
I am the one who just think and only have a converstion in my head.
Idk, maybe sometimes it just too hard to talk when you have a hard feeling.
And if I feel hurt, I will just remain in silence.

Tapi ternyata diam saja juga bukan solusi.
Hanya menyisakan sakit yang lebih mendalam karena kita tidak dapat mengungkapkan kebenaran.
Apalagi sampai waktunya sudah habis dan tidak ada kesempatan lagi untuk bisa menyampaikan.
Sampai sekarang rasa sakit juga masih terasa walaupun sudah berusaha ditutupi dengan pemikiran positif.
"Time will heals all wounds", tapi kurasa kalau waktu yang dilewati tetap saja dengan perasaan yang sama luka juga akan tetap ada.
"Akan ada waktunya nanti kamu juga bahagia", begitu kira-kira yang disampaikan orang-orang ketika selesai mendengar ceritaku.

Ceritaku, yang ku maksud adalah cerita dimana semua bermula ketika ada yang berusaha mencoba masuk ke dalam hidup dan hatiku.
Dengan segala cerita darinya yang mengagumiku dan selalu berdoa diberi kesempatan untuk dekat denganku.
Mungkin benar saat itu dia tidak berharap akan meninggalkan dan melukai.
Atau mungkin saat itu dia belum sadar kalau pada akhirnya apa yang dia harapkan dalam doanya hanya kebaikanku, namun dia lupa untuk berdoa agar bisa menerima keburukanku juga.

Ketika pada akhirnya dia mengenali keburukanku, dia pun mengungkapkan dan memintaku untuk berubah.
Untuk jadi yang lebih baik versi dia.
Untuk jadi apa yang dia mau.
Memang tidak memaksa, namun ada beberapa hal yang dia ungkapkan seperti mendeskripsikan orang lain yang perfect di mata dia.
Pada saat itu aku hanya merasa dia peduli dengan masa depanku.
Yang sesungguhnya dia hanya peduli dengan masa depannya.

Saat itu kami sedang jauh. Bukan hanya berbeda kota atau pulau. Sangat jauh.
Saat memulai pun aku sudah ragu karena sesungguhnya aku juga bukan orang yang bisa jauh dengan pasangan.
Namun dia juga meyakinkan, aku pun berusaha yakin.
Berat? sangat.
Sedih? pasti.
Tapi yang menguatkanku saat itu adalah memberikan support penuh dengan apa yang dia cita-citakan.
apa yang dia niatkan untuk bisa hidup dengan baik di masa depan denganku.
Pada saat itu.

Harapanku saat itu kami bisa lebih saling mengkhawatirkan satu sama lain.
Saling support dengan apa yangsudah disepakati.
Mungkin salahku juga yang terlalu manja dan tidak bisa sendiri.
Sehingga aku terlalu posesif dan berfikiran negatif.
Tapi aku masih berusaha berfikir positif dan support segala aktivitasnya.

Sampai suatu hari aku mendapati dia mulai menutupi sesuatu.
Manutupinya agar tidak mendengarku berkomentar.
Menutupinya untuk tetap terlihat aman dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Padahal ketika mengetahui sesuatu yang sengaja ditutupi akan semakin memicu pemikiran negatif yang tidak menentu.

Satu hal yang pasti, ada wanita lain.
Wanita yang selama ini dia sudah sering bandingkan denganku.
Wanita yang mungkin memang memiliki semua hal yang selama ini dia berusaha atur ada padaku.

Selama jauh, banyak hal yang mulai dia sampaikan secara negatif.
Seperti mengungkapkan kekesalannya ketika tidak bisa membicarakan hal politik denganku.
Dan saat dia tidak puas dengan jawabanku, dia mulai membandingkan jawaban wanita itu.
Sampai sejauh itu, aku masih berusaha berfikir positif.
Berfikir bahwa semua akan baik-baik saja.

Tapi ternyata fikiran positif itu hanya menyenangkan egoku saja.
Kenyataannya dia semakin jauh.
Semakin tidak ku kenali lagi.
Semakin banyak hal yang aku tidak tahu.
Sampai akhirnya seperti diberi jalan untuk tahu apa yang ditutupi selama ini.
A bitter truth.

Sampai saat aku tahu apa yang terjadi diantara mereka, dia pun masih mengelak.
Masih menyampaikan keinginannya denganku.
Masih sedih atas apa yang terjadi antara kita.
Namun, dia juga yang akhirnya mengakhiri semuanya.

Saat itu karena kita masih jauh, aku masih berfikir semua penyebabnya adalah jarak.
Mungkin dia kesepian, sehingga butuh teman.
Sebenarnya aku pun begitu, tapi aku berusaha mencari kesibukan lain dan berfikir positif bahwa semua ini baik untuk hidupku kedepannya.
Saat itu aku masih berharap saat dia pulang dia akan menghubungiku dan berusaha minimal memberikan penjelasan.
Namun berharap ketika kita sudah disakiti itu 2x lebih menyakitkan.
Tidak ada niat baik samasekali untuk mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Rasanya ada yang mengganjal dan ingin disampaikan.
Aku seperti arwah penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Ingin tahu apa alasan dibalik ini semua.
Ingin menyampaikan bagaimana aku menghadapi ini semua.
Ku rasa dia tidak siap juga dengan apa yang akan ku sampaikan.
Tujuanku hanya untuk membebaskan pikiran dan jiwaku.
Yang sampai saat ini rasanya masih terperangkap dalam masa lalu dan kesakitan yang sama.
"Time heals", kata mereka.

Mungkin memang sudah tidak ada kesempatan lagi untuk bisa menjelaskan semuanya.
Untuk bisa mencoba paham kesalahan apa yang sudah ku perbuat sampai dia bisa berubah pikiran.
Mungkin aku hanya bisa menyampaikan perasaan ku disini.









Komentar

Postingan Populer