Your own good

 

Dapet cerita dari temen tentang sepupunya sekarang usia 36 tahun baru menikah sudah dikaruniai anak tapi anaknya gak diurusin, bahkan nyusuin aja gamau. Alesannya "aku ngantuk, capek. Ibu kan yang minta aku nikah dan ngasih cucu. Tuh udah ku kabulin, urusin aja sendiri.”

Tanggepan para ibu-ibu pendengar gak habis pikir kenapa begitu tega sama anak sendiri, dilahirin sendiri masa gak ada rasa keibuan yang tumbuh, yang ingin melindungi, mengasuh dan mengasihi.

But she didn’t want a child at the very first place. Dia tertekan karena didesak udah usia 36 tahun belum menikah dan ibunya ingin anaknya melahirkan cucu. Bisa jadi memang gak pernah ada keinginan dia untuk menikah apalagi ngurus anak. Tapi harus dan dijalani dengan paksaan.

“Emang trus dia gamau gitu nikah selamanya?”

Well, who knows? Gak semua orang punya prioritas yang sama . Tapi budaya kita adalah menruti orang tua dan kebiasaan yang ada. Sehingga ketika kita berbeda akan dihujani hujatan dan akan dibanjiri makian.

Kalau hanya karena paksaan apalagi menuruti keinginan orang lain dan diri sendiri belum siap untuk bertanggung jawab, apakah perlu?

Dan apakah anak yang dilahirkan akan mendapat perhatian dan kasih yang tepat apabila orang tuanya saja tidak pernah mengharapkan kehadirannya sama sekali.

Could we just stop demanding our needs to others? They don’t owe anything. They are your responsibility and you should lead them and not forcing them to do what pleasing your own good.

 

 

 

Komentar

Postingan Populer